RSS

Perjalanan Hidup Menuju Pintu Hidayah

By Bandy CNR

Tak ada yang abadi, itulah kata yang tepat untuk yang ada di dunia ini. Meskipun ada beberapa orang yang membatah tentang kalimat itu, diantaranya ialah Rama.
Rama mengatakan “ Hei umat manusia, dunia ini kan abadi…. ”, seorang komunis ini pun menyebut seperti itu karena dia tidak mempercayai adanya Tuhan. Dia tercipta karena siklus kehidupan manusia yang selalu berulang. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) ini pun selalu menganggap bahwa agama itu hanyalah aliran sesat saja hingga seorang sahabat dia bernama Rabiul ini selalu mengatakan “ Hei Ram, tidakkah engkau untuk mencoba memasuki agama yang ada di Indonesia ini ?, karena memiliki agama itu indah ”, Rama pun selalu mengatakan “ Maaf teman, saya tidak dapat mempercayai yang namanya agama…”, Rabiul pun menghormati keputusan Rama yang menurutnya itu keliru.

Di suatu hari, tepatnya di Universitasnya Rabiul mendapatkan undangan dari suatu organisasi di USU dengan tema debat agama, ia pun mengajak Rama. Rama berkata “ wah , wah , wah, beginilah kalau kita mempunyai agama, pasti selalu berdebat yang dapat menimbulkan permusuhan ”, Rabiul pun hanya terdiam dan tersenyum. Di acara debat itu pun muncul suasana panas yang antara agama satu dengan agama lainnya, hingga Rama tertawa dan berkata ke Rama “ Beginilah Ul, apakah kamu masih mau memeluk agamamu ? ”, Rabiul dengan tenang berkata “ Tentu aku akan tetap memeluk agamaku, agama Islam, yang penuh dengan ketenangan dan rasa perdamaian .”

Suatu ketika di hari Jumat, Rama ingin mengajak Rabiul untuk pergi ke perpustakaan daerah sekitar jam 11.30 WIB, namun Rabiul berkata “ Maaf Ram, bukannya saya menolak, tapi saya ingin beribadah dulu karena nanti ada sholat Jumat ”. Rama pun sedikit goyah hatinya dan berkata dalam hati “ Mengapa mereka selalu taat ya kepada Tuhan mereka ? ”. Rama pun menunggu Rabiul yang kebetulan mesjidnya tidak begitu jauh dengan kos nya rabiul, saat melihat Rabiul dengan bahagia dan senang pulang dari mesjid bersama para jemaah lainnya, Rama merasa tercengang, dan merasa bahwa dirinya merasa kesepian, “ betapa bahagianya mereka ? ” ucapnya dalam hati.

Pada saat diperpustakaan daerah, Rama langsung menuju ke buku ilmu biologi yang dianya memang berada di Fakultas Kedokteran, sedangkan Rabiul meskipun ia jurusan Fakultas Kedokteran , namun ia menuju ke bagian ilmu agama hingga Rama heran melihat Rabiul. Rama pun mencoba mendekati Rabiul yang dia berada di bagian ilmu agama, “ Rabiul, sedang apa kamu ? ” Rama berkata dengan rasa penasaran, “ Ini, saya lagi membaca dan menalaah buku hadits shahih ” Rabiul menjawab, “Hadits shahih? Apa itu ? ” Rama bertanya lagi, “ itu adalah sebuah buku / kitab kedua setelah Al – Quran, namun hadits ini tidak berasal dari kata – kata ALLAH, namun dari nabi saya yaitu, Muhammad SAW ” Rabiul menjawab. Rama pun semakin penasaran dengan buku yang namanya hadits, dan ia tetap belum percaya yang namanya agama. Dan pada saat ia mau kembali kearah buku bagian Ilmu kedokteran, terlintas di penglihatannya ada sebuah buku berjudul “Islam itu Universal”, dia pun penasaran, penasaran, dan semakin penasaran. Hingga ia mengambil buku itu, dan mulai membacanya, dan tiba – tiba keluar air mata nya yang ia tidak percaya ada sebuah bab yang menjelaskan tentang bagian tubuhnya yang berhubungan dengan Islam, seperti telapak tangan bila disatukan menjadi sebuah huruf arab berjumlah 99 yang itu adalah asmaul husna atau nama – nama ALLAH, pada bagian jantung ternyata ada tulisan kalimah ALLAH dalam bahasa arab, dan masih banyak lagi yang tertulis dalam buku itu.
Pada saat mereka pulang dari perpustakaan, Rabiul merasa heran dengan Rama karena biasanya ia membawa buku tentang Ilmu Biologi, namun ia membawa sebuah buku agama. Rabiul berkata “ Ram, ada apa denganmu ? kok kamu meminjam buku itu, bukannya kamu… ”, Rama langsung menjawab “ Ul, hari ini, detik ini, saya ingin memeluk agamamu, agama Islam ”, Rabiul merasa terkejut dan berkata “ Subhanallah, akhirnya engkau mendapatkan hidayah dariNya Ram ”, Rama berkata “ Iya Ul, saya merasa berdosa kepada ALLAH, saya telah menutupi hati saya hingga saya tidak ingin mengenalnya ”. Rabiul yang tinggal sendirian di perumahan mewah, langsung memanggil ustadz, dan para saksi untuk acara mengucapkan 2 kalimah syahadat. Setelah selesai acara mengucapkan 2 kalimah syahadat Rabiul langsung menyapa Rama dan berkata “ Assalamu’alaikum hai muallaf, semoga engkau menjadi hamba ALLAH yang beriman Ram ”, Rama berkata “ Wa’alaikumsalam Ul, dengan ini saya juga akan mengubah nama saya dari Rama menjadi Ramadhan ”. Rabiul pun dengan bahagia mendengar kabar itu, dan berkata “ Baguslah wahai sahabatku, dan ini saya berikan engkau sebuh Al – Quran beserta terjemahannya dan sebuah peralatan sholat wahai saudaraku ”, “ terima kasih wahai sahabatku, semoga engkau mau mengajariku bagaimana cara membaca Al – Quran dengan baik dan benar ” Ramadhan menjawab, “ Iya saudaraku ” Rabiul berkata.


Hingga hari demi hari, waktu demi waktu, Ramadhan mulai lancar membaca Al – Quran, dan Sholat. Bahkan ia mau mengasah ilmu agamanya dengan membaca terjemahannya, dan mulai membaca hadits shahih, hingga ia lulus di fakultas kedokteran dengan nilai yang memuaskan. Ramadhan dengan gembira berkata “ Alahmdulillah, syukran ya ALLAH, engkau telah memberiku hidayah dan jalan yang lurus ”, Terdengar oleh Rabiul dan ia berkata “ Hai Ustad, akhirnya kita bisa lulus juga di Universitas ini ”, Ramadhan berkata “ Ya Ul, ini semua berkat ALLAH yang selalu menolong kita ”.

Dan pada akhirnya Ramadhan pun menjadi seorang muallaf yang beriman kepada ALLAH SWT, dan selalu mengikuti pengajian / majelis di sekitar perumahan itu maupun di seluruh majelis yang ada di Kota Medan. Dengan harta yang melimpah dari warisan orang tuanya yang telah meninggal, ia pun berkeinginan untuk naik haji bersama Rabiul, sahabat sejati ia sejak SMA. Dan ia pun sekarang telah terbangun dari tidur panjang yang telah menyesatkannya, dan saatnya untuk ia mengejar bintang di surga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS