RSS

Contoh Resensi buku


 Kau Memanggilku Malaikat

Sinopsis

Sebagai malaikat aku bisa menemui mereka di saat terakhir hidup mereka, di beberapa tempat berbeda, dalam waktu yang sama. Aku bisa menghibur, namun tak sepenuhnya mendorong mereka untuk tidak mati pada saatnya.
- Seorang istri yang setia, tulus, mengabdi pada suami, anak, serta menantunya, ingin mengetahui keberadaan suaminya. Suami yang mempermalukan, merendahkan dengan mengawini adik menantunya ini, apakah selalu gembira seperti sebelumnya?
- Seorang preman yang dibakar hidup-hidup, pelan-pelan, dikeroyok, dan tak mau dikasihani. - Seorang gadis penuh pesona, ditembak polisi karena menolak diperkosa.
- Seorang pengemudi bis yang tahu kendaraannya kurang layak jalan, serta anak-anak sekolah yang menumpang.
- Juga, hampir saja, seekor ayam. Semua berjalan dengan baik dan memang begitulah sejak awal mula, sampai kemudian aku bertemu anak perempuan kecil, dipanggil Di. Anaknya lucu, mengenaliku dengan baik, entah basah atau kering ketika hujan turun, bisa tetap berada di pangkuan kedua orangtuanya saat seharusnya meninggalkannya.
Sejak ada Di, aku tak merasa sendirian. Aku melihat sayap-sayap malaikat dalam bentuk air mata, juga ketulusan.
Kematian sesungguhnya sangat indah dan menyenangkan---apa pun yang terjadi ketika masih hidup. Tapi ternyata kehidupan juga penuh pesona. Aku sempat tergoda.

ISBN : 978-979-22-4093-1; 40108029

Spesifikasi Buku
Penerbit     : PT. Gramedia
Pengarang  : Robert Harris
Jumlah Halaman  : 272 halaman
Ukuran       : 13.5 x 20 cm
Tahun Terbit    : Nopember 2008
Kelompok  : Novel baru
Bahasa       : Indonesia
Cover         : softcover

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Contoh Tajuk Rencana

             Facebook yang Fenomenal

          Mark Zuckerberg, dialah pemuda terkaya didunia akibat situs yang ia memiliki memiliki banyak ratusan juta penggemar di seluruh penjuru dunia. 1,5 Milyar Dollar telah tertampung di kantong sakunya dengan otomatis datang dan tidak pernah habisnya, terkecuali penggemar facebook benar – benar menghapus akun mereka masing – masing.
            1,5 Milyar Dollar mungkin bisa saja melunaskan hutang – hutang yang ada di Indonesia, seandainya Mark Zuckerberg ini adalah warga Indonesia. Namun sayang, dia hanyalah seorang warga Amerika keturunan Yahudi yang saat ini bergabung dalam sebuah organisasi Yahudi.
            Dan faktanya ialah Mark Zuckerberg ini telah mendanai Israel dalam misi perang  membasmi masyarakat Palestina demi menguasai tanah milik Palestina. Akhir bulan – bulan ini juga telah masuk pesan facebook yang menyerukan agar jangan menggunakan akun facebook karena dana keuntungan dari facebook akan membiayai perang Israel, dan ada juga para pemilik akun dari luar negeri mereka menyerukan agar tidak menggunakan facebook karena adanya kebijakan baru yang dimulai bulan Mei 2010 tentang privasi tiap akun facebook bisa dijual oleh Mark Zuckerberg kepada siapapun. Hal ini pasti membuat marah kaum facebookers yang telah menyimpan data rahasia mereka kedalam facebook, sehingga tak terelakkan lagi, ratusan orang didunia ini telah menghapus akun mereka di facebook, dan melaporkan pemilik facebook ke agen CIA di Amerika.
            Namun, dengan adanya laporan itu ternyata Mark Zuckerberg tidak gentar dengan laporan itu, malah sepertinya agen CIA dari Amerika itu  mengabaikannya karena dengan alasan dan pertimbangan yang tidak jelas. Hal ini telah memperlihatkan bagaimana kekuasaan uang pada Mark Zuckerberg telah mengguna – guna si agen CIA.
Dan akhirnya banyak situs –situs jejaring sosial yang bermunculan memanfaatkan facebook yang sedang turun pamor, namun apa daya kekayaan Mark Zuckeberg ini telah membuat situs – situs terbaru yang bermunculan telah menjadi hilang pamor akibat si pemilik facebook ini telah meng hack (merusak) situs terbaru tersebut.
Hal ini justru membuat si pemilik facebook mendapat cercaan dari para pengguna cyber, namun sepertinya dikarenakan kebijakan itu berbahasa Inggris dan masyarakat selalu mengabaikan itu,  dari hari ke hari tetap saja akun – akun baru facebook ini semakin bertambah, dan pemilik facebook ini pun semakin mendapatkan keuntungan yang berlimpah, hingga mungkin akan ada kebijakan atau pendanaan diluar dari pikiran kita.
Semoga saja para pengguna cyber internet dapat mengetahui tentang hal ini, dan keluar dari facebook atau setidaknya pasif dari facebook agar Facebook ini menjadi turun pamor dan hilang dari jaringan internet. Dan apabila Mark Zuckerberg ini tidak menginginkan situsnya turun pamor, semoga ia dapat mengubah kebijakannya dan tidak mendanai perang dari Israel.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Membuat Paragraf Induktif ( Analogi )



       Terkadang manusia hampir memiliki sifat sama dengan hewan, yaitu saling berkelahi untuk memperebutkan kekuasaan disuatu kelompok, suka saling berebut makanan, dan ingin mendapatkan sesuatu dengan keinginan hawa nafsunya. Hal ini membuktikan bahwa sifat manusia memiliki kesamaan dengan sifat hewan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Contoh Paragraf Koherensi dan Kohesi


Setiap hari Jum'at pada jam pertama, aku selalu membersihkan kelas bersama teman – teman di sekolah, namun sayang program itu telah hilang ditelan bumi. Padahal lingkungan sekolah aku rawan dengan lingkungan yang kotor akibat sampah – sampah dari pohon sekolah. Mungkin ini adalah kebijakan dari sekolah yang sudah ditetapkan. Dengan kebijakan itu, aku bersama teman – teman harus lebih rutin melihat lingkungan sekolah, khususnya lingkungan kelas aku yang ada didekat laboratorium fisika dan kimia. Jadi, kami harus berusaha menjaga lingkungan itu agar menjadi lingkungan yang sehat dan nyaman bagi kami dan guru semuanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Membuat eksposisi

Awal Pagi itu

Ssshhh………., suara hujan telah terdengar ditelinga para pelajar SMAN 2 Binjai khususnya di ruangan kelas XI IA 1. Suasana yang dingin, angin yang berhembus kencang hingga membuat para pelajar kehilangan konsentrasi belajar dan membuat pikiran entah kemana. Kekuatan air memukul keras dari atas hingga membuat para pelajar mengantuk. Akibatnya suasana belajar tidak lagi kondusif, proses pemasukan ilmu dalam belajar kurang dapat diserap, dan suasana belajar jadi tidak interaktif lagi.
Suasana belajar tidak lagi kondusif, itu menjadi hal yang membuat kegiatan PBM ( Proses Belajar Mengajar ) tidak tercapai lagi. Antar pelajar sama – sama resah dikarenakan mata yang tidak dapat terangkat lagi. Sebagian pelajar ada yang menggerakkan kakinya kekanan atau kekiri, dan sebagian lagi ada yang menghentakkan kakinya ke lantai dengan sesuka mereka.
Apalagi pada saat hujan, proses pemasukan ilmu dalam belajar kurang dapat diserap oleh pelajar, akibatnya ketika ditanyakan tentang apa yang telah disampaikan oleh guru, para pelajar hanya dapat tersenyum dan dapat mengatakan kata " lupa ". Sehingga ilmu yang disampaikan oleh guru hanya seperempat dari keseluruhan yang terserap, bahkan tidak terserap sama sekali.
Hujan juga membuat suasana belajar jadi tidak interaktif lagi hingga tujuan belajar kurikulum yang seharusnya ada tanya jawab telah tidak tercapai, akibatnya pada saat guru mengajukan pertanyaan siswa tidak ada yang mau bertanya dikarenakan mengantuk berat. Dan kegiatan belajar KTSP pun telah nihil dengan begitu saja.
Hal ini mengungkapkan bahwa belajar dalam keadaan hujan apapun, baik itu hujan rintik maupun hujan badai dipastikan kegiatan PBM tidak akan tercapai lagi. Mungkin solusi yang terbaik ialah para pelajar seharusnya tidak monoton dengan sebuah teori aja, seharusnya pada kondisi hujan suasana belajar ada kegiatan prakteknya yang mencakup 60% belajar dari keseluruhan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SANG PENULIS



 

Karya : Bandy Cipta Nur Ramadhan

Gelap, namun terang dihadapan seorang penulis cerpen karena ia berada di sebuah notebook berukuran 12 inchi, ia bingung mau menulis sebuah tema yang menurutnya dapat menarik seorang pembaca. Bingung, itu juga yang membuat pikirannya kosong, dan tak terkendali hingga ia memutuskan untuk keluar dari sebuah kamar kerja yang sumpek.
Kesana kesini, ke utara ke selatan, begitulah yang ia lakukan setiap hari. Sudah enam bulan novelnya tidak terbit lagi, terakhir kali ia mengeluarkan sebuah judul "Menuju Jalan HidayahMu" yang laris hingga 2 juta kopi, perasaannya saat itu sangat bahagia dan penuh rasa suka cita. Ia selalu dikelilingi para media pers yang memberikan pertanyaan dan fans yang selalu meminta tanda tangan, hingga novelnya dijadikan sebuah film yang disutradarai oleh seorang yang terkenal dan professional.
Namun itu sudahlah berlalu, para wartawan sekarang tidak mendekatinya lagi dan para fans telah hilang entah kemana. "Sekarang ini aku hanyalah manusia biasa" kata penulis itu dengan rasa penyesalan yang dalam, "Mengapa aku menjadi begini? Kenapa pikiranku kosong….!!!" ia berkata lagi dengan muka yang kusam.
Hingga akhirnya ia putuskan untuk membawa laptopnya dan pergi dari rumah dan menuju ke suatu tempat yang ia pun tidak mengetahuinya. Becak, ojek, angkot, bus, semua telah dinaikinya namun ia belum mendapatkan juga suatu tempat yang cocok untuk dijadikannya sebuah objek. Gunung, pantai, sungai, maupun hutan tidak juga membuat ia menjadi secemerlang pada waktu itu. Ia pun semakin putus asa dengan kehidupannya sendiri, dan mulai berpikir untuk tidak menulis lagi. Namun ia sadar, bahwa kehidupannya di gantung hidupkan dengan tulisannya, tidak mungkin ia berhenti menulis kecuali ia mempunyai bakat yang lain.
"Ya Tuhan……, kenapa aku bisa begini…..!!!!"
"Apa salah hamba ya Tuhan……"
"Berikan hambaMu ini sebuah hidayah….."
Ia terus berkata seperti itu berulang kali hingga matanya mengeluarkan air mata yang bergelinang ditubuhnya. Mungkin batin, jiwa, dan raganya sudah tidak tahan lagi ingin lepas dari ruhnya yang sudah putus asa. Dua minggu sudah berlalu, dan ia pun pulang ke rumahnya dengan badannya yang kusam, tidak enak dipandang, baju gelandangan, hingga orang banyak yang menjauhinya.
Adzan Magrhib berkumandang ke seluruh penjuru desa, dan suara itu memasuki ke dalam rumahnya. Ia pun merasa terketuk hatinya untuk pergi ke sebuah surau yang telah memanggilnya. Dengan sebuah baju putih, celana hitam, dan peci hitam ia pergi ke surau tersebut dengan wajah yang sangat kusut.
Ia melihat wajah para jamaah lainnya dengan muka yang berseri, dan penuh dengan rasa suka cita, itu membuatnya teringat kembali masa – masa keemasan ia di enam bulan yang lalu. Sholat jamaah magrhib telah usai, dan para jamaah pulang kerumah masing – masing. Namun ia tak ingin pulang kerumahnya, dan masih ingin berdzikir kepada sang Illahi untuk mendapatkan hidayah dari Nya. Tepat pukul sepuluh malam, penjaga surau akan menutup pintu itu, lalu penjaga itu merasa terheran melihat seorang yang masih berdzikir dari magrhib tadi. "Assalamu'alaikum pak, surau ini sudah mau tutup" penjaga itu berkata, "Wa'alaikumsalam pak, iya saya tahu, tapi apakah saya bisa meminjam surau ini untuk saya berdikir?" Penulis itu menjawab dan bertanya kembali. "Hmmm….., bisa pak, tapi jaga kebersihan ya pak" Penjaga surau itu berkata, "iya pak" Penulis itu menjawab. Akhirnyapun penjaga itu memberikan kunci surau itu kepada penulis novel yang malang, dan penulis itu melanjutkan dzikirnya.
Tepat pukul 11.30 malam ia tertidur lelap, namun tidak disangka tangannya masih bergerak dan mulutnya masih mengucapkan kalimat tasbih,tahmid,dan tahlil. Dalam tidurnya ternyata ia bermimpi berada disebuah perjalanan yang ia sendiri tak tahu ada dijalan mana itu. Tiba – tiba datang seorang ustad menemuinya dan berkata "Assalamu'alaikum wahai pemuda," "Wa'alaikumsalam pak ustadz, anda siapa dan darimana" kata penulis.
"Tidak usah engkau tahu tentang itu, namun saya mengetahui kalau engkau lagi kesusahan, bukan?" Ustad berkata.
"Kok ustad tahu, sebenarnya siapa ustad ini" kata penulis dengan terheran – heran.
"Sekarang cobalah kamu untuk melakukan sholat tahajjud, dan pergilah kesebuah pesantren yang tidak jauh dari rumahmu, disana engkau pasti mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga" kata Ustad.
"Mengapa bapak mengatakan seperti itu? Sebenarnya siapa ustad ini?" kata penulis dengan masih rasa terheran – heran.
Tiba – tiba sebuah cahaya putih mendekat ke arah sang penulis dan terbangunlah ia. Tepat pukul tiga dini hari, angin yang berhembus dingin, suara yang sunyi senyap, ia terbangun dengan masih terheran – heran dengan maksud mimpi – mimpinya. Ia pun mengambil air wudhu dan langsung sholat tahajjud sebanyak 12 rakaat. Setelah sholat ia langsung menadahkan tangannya setinggi punggung, dan berkata "Ya ALLAH, berikanlah aku hidayahmu untuk ku dapat menuju keemasan hidupku,…" Ia pun menangis dan bermunajat berulang kali dengan kata – kata itu.
Hingga menjelang shubuh, ia bersiap – siap adzan untuk membangunkan para penduduk desa untuk sholat jamaah, suara itu pun tergumam ke seluruh penjuru desa. Namun penduduk desa merasa aneh dengan suara adzan itu, di sisi suaranya asing ditelinga para penduduk, di sisi lain suara itu sangat merdu, seperti suara yang ikhlas untuk memanggil penduduk. Penduduk pun berdatangan ke surau itu untuk sholat berjamaah, namun apa yang mereka lihat, seorang muadzin yang mereka bilang suaranya merdu itu ialah seorang penulis yang hampir merasa putus asa akan kehidupannya. Penduduk pun merasa heran dengan tubuhnya yang seperti tidak makan semalaman, matanya seperti buah apel yang busuk, bibirnya seperti buah duku yang memutih.
Seorang imam pun berkata kepada sang penulis ini "Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" kata penulis.
"Mengapa tubuhmu seperti ini" Imam berkata.
"Saya semalaman hanya berdzikir kepada ALLAH SWT" kata penulis.
"Subhanallah, engkau sungguh mulia dimata ALLAH nak, kalau begitu ayo kita semua sholat" kata imam.
Setelah berjamaah sholat shubuh, imam langsung menemui sang penulis dan berkata " Nak, dari raut wajahmu, sepertinya engkau butuh sebuah ketenangannya ya."
"Iya pak" kata penulis.
    "Kalau begitu, ayo ikut bapak ke pesantren yang menurut bapak itu cocok untuk kamu" kata Imam tersebut.
    Ia pun teringat disebuah mimpinya yang mengatakan bahwa pergi ke sebuah pesantren, "Baik pak, saya ikut" kata penulis dengan wajah yang masih terheran.
    Tiba di pesantren yang terletak tidak jauh dari rumahnya, dia seperti menemukan suasana yang beda, dari alamnya maupun dari diri batinnya sendiri. Menginjakkan kaki pertamanya seakan banyak orang yang akan menyambutnya dengan rasa suka cita, hingga ada kepala santri disana yang bernama Ibnu dan bertanya kepada Sang Penulis tersebut "Assalamu'alaikum akh…"
"Wa'alaikumsalam akh," kata penulis.
"Ahlan wa sahlan akh di pesantren ini, ada apa gerangan engkau datang kesini?" kata penulis dengan wajah tersenyum sekaligus agak terheran – heran karena baru kali ini ada seorang penulis terkenal yang mau ke pesantren dia.
"Ana mau melihat – lihat pesantren akh," kata penulis.
"Ow, kalau begitu silahkan akh, biar saya pandu akh untuk lihat – lihat pesantren ini," kata Ibnu.
    Ibnu dan penulis pun melihat – lihat pesantren sedangkan Imam yang mengajak penulis tadi pergi ke kantor guru dipesantren itu. Saat melihat – lihat di pesantren tersebut, penulis melihat salah satu tempat yang begitu tersentuh hatinya untuk dilihat, yaitu sebuah tempat ruang perenungan diri. Dan ia pun memutuskan untuk bergabung di pesantren tersebut.
    Hari pertama ia di pesantren, tepatnya pada pagi hari ia dan para santri lainnya melakukan aktivitas di pagi hari, lalu disiang hari juga melakukan aktivitas, hingga yang ia tunggu – tunggu akhirnya tiba juga, tepat ba'da isya ia dan para santri lainnya melakukan aktivitas perenungan diri di salah satu ruangan pesantren tersebut.
    Saat perenungan diri tersebut dimulai, ia merasa sedikit tenang hatinya dan merasa mempunyai sedikit inspirasi baru didalam pikirannya untuk membuat sebuah novel terbaru. Hari demi hari telah ia lewati dan pikirannya terus terbuka dengan inspirasi baru yang dapat membuat ia bisa menulis cerpen lagi.
    Satu minggu telah berlalu, ia pun mulai merasakan sebenarnya apa yang membuatnya menjadi buntu inspirasi di pikirannya, ternyata sebuah pertemanan, persahabatan, kekeluargaan selama ini belum ia dapatkan sejak menulis cerpen pertama kalinya. Sejak ia menulis cerpen ia mulai tidak bersosialisasi lagi dengan masyarakat, meskipun ia sering memberi sebagian rezekinya kepada kaum dhuafa, sering bertemu dengan pers, dan sering juga bertemu dengan fans. Namun didalam suasana pesantren ini belum pernah ia dapatkan selama ia menjalani karir novelis tersebut.
    Kebetulan ia sekamar dengan kepala santri tersebut, maka ia pun dengan leluasa bertanya tentang kehidupan sosial dipesantren tersebut, sekaligus menjadi bahan sumber karya tulisnya.
    "Assalamu'alaikum akh," kata penulis.
    "Wa'alaikumsalam, ada apa akh?" kata Ibnu.
    "Ana mau bertanya, sebenarnya apa yang membuat kehidupan para santri disini menjadi begitu erat dan hangat ?" kata penulis.
    "Kuncinya Cuma satu akh," kata Ibnu dengan tersenyum.
    "Apa itu akh?" kata penulis dengan rasa terheran – heran
    "Kuncinya ialah kebersamaan akh, di kala kita sedih , kita bahagia, kita susah, kita senang, kita harus bersama akh," kata Ibnu.
    "Subhanallah…" kata penulis dalam hati.
    Penulis merasa memang dirinya selama ini selalu sendiri hingga senang, susah ia tanggungkan kedalam dirinya sendiri, selama ini ia merasa belum mempunyai seorang teman yang begitu dekat hingga ia menemukan pesantren ini.
    Pada suatu pagi hari, penulis pun berencana menemui kepala yayasan pesantren tersebut untuk meminta izin membuat novel dengan sumber para santri dan para kiyai disana.
    "Assalamu'alaikum kiayi," kata penulis.
    "Wa'alaikumsalam nak, ada apa nak?" kata kiyai
    "Saya ingin membuat novel, namun sumber saya menulis ialah para santri disini dan para kiyai, bolehkah itu kiyai?" kata penulis.
    "Kalau itu masih dalam batas norma agama dan tidak membuat nama pesantren ini menjadi buruk, saya sebagi kepala disini mengiizinkannya nak, dan saya dukung 100 persen ide kamu itu" kata kiyai.
    Penulis pun langsung mengucapkan terima kasih kepada kiyai, dan ia mulai membuat novel tersebut. Bab demi bab telah ia tuliskan, dibagian penutup ia menuliskan rasa ucapan terima kasih kepada para santri dan kiyai hingga dapat membuat ia menjadi sang novelis yang mempunyai inspirasi.
    Satu bulan lamanya akhirnya novel itu selesai, ia pun langsung menuju suatu penerbit buku untuk membantu ia dalam mensukseskan buku terbarunya. Pihak penerbitpun menyambut baik buku tersebut, dan akan menyebarkan buku tersebut dengan cetakan pertama seratus ribu kopi disebarkan ke seluruh penjuru negeri.
    Kurang lebih setengah bulan ternyata buku itu telah habis terjual, dan penulis pun merasa senang dengan berita tersebut. Cetakan kedua penerbit menambahkan buku tersebut dengan lima ratus ribu kopi buku disebarkan, penulis pun langsung banyak menerima kedatangan para pers nasional. Banyak pers bertanya tentang bagaimana ia bisa sukses menulis buku novel tersebut, dan ia pun berkata "Keberhasilan saya ini dikarenakan bantuan dan kebersamaan saya bersama para santri yang member saya banyak inspirasi sehingga saya dapat seperti ini."
Hingga pada suatu hari ia kedatangan seorang tamu dari luar negeri, yang ternyata tamu tersebut ialah seorang karyawan perusahaan penerbit terkenal didunia yang ingin mengajak ia bekerjasama untuk menerbitkan bukunya dalam versi bahasa asing. Ia pun menerimanya, dan cetakan pertama diterbitkan dengan lima ratus ribu kopi buku ke seluruh penjuru dunia. Dalam waktu satu bulan, buku itu hampir habis dan buku itupun diterbitkan lagi dalam cetakan kedua sebanyak lima ratus ribu kopi lagi. Berkat prestasinya tersebut, banyak penghargaan – penghargaan yang berdatangan kepada sang penulis tersebut, hingga ia tidak dapat menggambarkan hatinya saat itu.
Tidak penulis tersebut saja yang kehujanan rezeki, pesantren yang telah ia ceritakan pun menjadi kebanjiran para wisatawan yang sengaja untuk melihat keadaan pesantren tersebut, hingga pesantren tersebut kini menjadi tempat objek wisata, maupun pesantren percontohan untuk daerah yang lain. Dan tidak lupa pula donatur dari negeri Timur Tengah yang ingin menyumbangkan sebagian rezeki mereka untuk pesantren tersebut.
Hingga di suatu hari, pemerintah menawarkan penulis sebuah rumah mewah yang terletak dikota yang strategis. Ia pun langsung menolaknya, dan itu nantinya akan membuat ia menjadi kehilangan inspirasi untuk membuat novel yang baru.
Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di pesantren selama hidupnya, rumah lamanya akan dijualnya. Ibnu pun merasa heran dengan sang penulis tersebut dan berkata "Assalamu'alaikum akh, mengapa antum menjual rumah dan ingin bertempat tinggal di pesantren ini?," penulis menjawab "Wa'alaikumsalam akh, ana dipesantren ini seperti ana disurga kedua setelah surga sebenarnya, disini terasa sekali kebersamaan untuk hidup rukun dan tentram, makanya ana akan menjual rumah ana." Ibnu berkata "Subhanallah, begitu besarnya hidayah yang telah ALLAH berikan untuk antum."
Sang penulis pun menjadi seorang yang begitu penuh inspirasi hingga prestasi telah dicapainya dengan mudah. Kebersamaan telah menyatukan ia dalam jiwa pertemanan, persahabatan, dan kekeluargaan.
Sekian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS